Cegah Resiko Stunting dan Jamin Kualitas Gizi, Tim Asistensi Tinjau SPPG Di Tarakan dan Dorong Sistem Prasmanan

Ketua Tim Asistensi Wilayah Kalimantan Utara, Yoko Handani saat mengunjungi SPPG Pamusian 7 di Kecamatan Tarakan Tengah, Rabu (28/10/2026)

Cegah Risiko Stunting dan Jamin Kualitas Gizi, Tim Asistensi Tinjau SPPG di Tarakan dan Dorong Sistem Prasmanan

Paguntara.com-Tarakan, Ketua Tim Asistensi Wilayah Kalimantan Utara, Yoko Handani, SE., MM., menegaskan bahwa pengoperasian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh sekadar menjadi rutinitas bagi-bagi makanan semata. Aspek mutu gizi, kebersihan, dan higienitas bahan makanan wajib mendapat perhatian utama.

“Jadi MBG tidak hanya membagi makanan saja, tapi juga kelancaran operasional, ketepatan distribusi, jaminan mutu gizi, higienisnya makanan dari dapur SPPG langsung ke tangan penerima manfaatnya wajib diperhatikan,” ujar Yoko saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah SPPG di Kota Tarakan, khususnya di wilayah Kecamatan Tarakan Tengah.

Dalam peninjauannya bersama Tim Asistensi, Yoko mengecek langsung berbagai fasilitas pendukung dapur MBG, mulai dari saluran IPAL, kebersihan area memasak, hingga pengelolaan stok bahan pangan basah maupun kering. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan standar yang baik, sekaligus merespons laporan adanya kawasan penerima manfaat yang mengalami stunting. Menurutnya, di sinilah peran besar program MBG harus dihadirkan secara optimal.

Sebagai langkah pengembangan ke depan, Yoko menyampaikan rencana agar asistensi serupa dapat diperluas ke dapur SPPG di lima kabupaten/kota se-Kalimantan Utara.

Salah satu dapur SPPG Pamusian 7 Kecamatan Tarakan Tengah

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat atau sekitar satu bulan ke depan, pihaknya akan melakukan uji coba metode makan secara prasmanan.

“Kita masih memantau dan melihat gimana untuk kedepannya jika MBG ini dilakukan dengan makan secara prasmanan, jadi ompreng akan dibagikan ke anak dalam keadaan kosong untuk mengambil makanan prasmanan yang sudah disiapkan sekolah,” Urai Yoko.

Tidak hanya itu, demi transparansi pekerjaan dan pengawasan yang lebih cepat serta efektif, Yoko juga meminta agar setiap dapur produksi MBG dilengkapi dengan kamera pengawas (CCTV) yang terhubung langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.

Sementara itu, Kepala SPPG Pamusian 7 Kecamatan Tarakan Tengah, Ayu Sri Ramadani, menjelaskan bahwa dapur yang dipimpinnya telah beroperasi sejak 2 Februari 2026 dan kini melayani 11 sekolah serta 6 posyandu di wilayahnya, yang mencakup 1 SMK, 4 TK, 3 KB, dan 3 SD.

Dalam menjaga mutu penyajian, SPPG Pamusian 7 menerapkan metode First In, First Out (FIFO) untuk memastikan makanan tetap fresh saat diterima anak-anak, didukung oleh sekitar 47 personel relawan dan tenaga kerja yang sigap mengatur jadwal memasak dari dini hari hingga distribusi pagi hari.

Dengan sinergi pengawasan ketat dari Tim Asistensi dan standar operasional yang disiplin, program MBG di Tarakan diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan pencegahan stunting bagi anak-anak sekolah.
(Ifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.